Sabtu, 05 Februari 2011

akuntansi keuangan (laporan keuangan)

STRUKTUR TEORI AKUNTANSI KEUANGAN
T. BACHTARUDDIN, SE, MSI
Fakulta Ekonomi
Jurusan Akuntansi
Universitas Sumatera Utara
Teori akuntansi telah diartikan sebagai “ logical reasioning in the form of a set of broad
principles that (1) provide a general frame of reference by wich ac-counting practice
can be evaluate and (2) guide the development of new prac-tices and procedures.1
Perkembangan lingkungan usaha yang semakin kompleks, berdampak pada semakin
kompleksnya transaksi usaha. Seorang akuntan harus mampu menganalisis transaksitransaksi
tersebut dan memecahkan persoalan yang berhubungan dengan akuntansi
dan pelaporannya. Selanjutnya seorang akuntan harus mampu menganalisis masalahmasalah
akuntansi dan pelaporan agar dapat berpartisipasi dan bertanggung jawab
pada pengembang-an standar akuntansi dan pelaporannya.
Peragaan 1 menyatakan struktur teori akuntansi keuangan yang akan dibahas da-lam
tulisan ini. Akuntansi dan pelaporan keuangan dilahirkan dan berkembang di tengahtengah
lingkungan ekonomi (economic environment). Kelahiran dan
perkembangannya secara signifikan dipengaruhi oleh lingkungan ekonomi itu sendiri.
Dengan demikian, teori akuntansi dan pelaporan keuangan dipengaruhi oleh
lingkungan akuntansi dan pelaporan keuangan dimana dimana mereka berada berada.
Objektivitas Laporan Keuangan (Financial reporting objec-tive) berfokus pada
penyajian informasi yang berguna bagi pemakai laporan keuangan dan terletak pada
level pertama dalam struktur, muncul dari pengaruh lingkungan. Karakteristik
informasi akuntansi yang bermanfaat, yang disebut de-ngan qualitative
characteristic (karakteristik mutu), berada pada level beri-kutny33a dari sruktur
teori akuntansi dan menyediakan dasar pemilihan diantara berbagai alternatif
akuntansi dan pelaporan untuk mencapai tujuannya.
1 Eldon Hendricsen, Accounting Theory 4th (homewood, III.: Richard D. Irwin, 1982) p.1.
2
ragaan 1. THE STRUCTUR OF FINANCIAL ACCOUNTING THEORY
THE ENVIRONMENT OF FINANCIAL ACCOUNTING AND REPORTING
Environmental Assumption
THEORY STRUCTURE
Objectives of financial reporting
Qualitative Characteristic of useful accounting information
The elements of financial statement:
Nature and definition
Relationships among elements
Financial statemen base on elements
Effects of economic events
Recognition and measurement principles for elements
Fundamental recognition principle
Principles underlying the
conventional system
(GAAP)
Accrual accounting
Priciples of accrual
accounting
- Historical cost
(historical exchange
price)
- Realization
- Matching
- Measuring unit (or
capital maintenance)
Modifications
- Conservatisme
- Special industries
ractice
Alternative system
- Alternative capital
maitenance
concept
- Atribut or
valuation alternatif
- Income
determination
alternative
Disclosure and methodes of financial statement
©2003 Digitized by USU digital library 3
Karakteristik kualitas bersifat perfasif, yang mempengaruhi elemen-elemen daftar
keuangan yang menyangkut definisi, pengukuran, dan pelaporan (terlihat pada
peragaan 1).
Elemen-elemen daftar keuangan merupakan blok-blok bangunan dimana didalamnya
terdapat harta, hutang, modal, pendapatan, beban, keuntungan (gain), kerugian
(losses), dan laba atau rugi bersih. Pada bagian tulisan ini akan disajikan arti dari tiap
elemen, membahas hubungan antara elemen-elemen, dan menge-nalkan daftar
keuangan yang melaporakan elemen tersebut.
Setelah memberikan arti pada elemen-elemen tersebut, juga akan menerangkan
prinsip-prinsip yang menyangkut dengan pengungkapan dan pengukuran elemenelemen
tersebut. Prinsip-prinsip ini dinyatakan dalam tiga bagian. Pertama, dibahas
menyangkut prinsip pengungkapan fundamental yang dapat diaplikasikan pada seluruh
daftar keuangan. Kedua, dibahas prinsip-prinsip pengungkapan dan pengukuran yang
tertera pada GAAP (General Accepted Accounting Principles), atau apa yang disebut
dengan sistem convensional. Kemudian, disebabkan sistem konvensional telah banyak
menerima kritikan pada tahun-tahun terakhir ini, akan dibahas pula prinsip-prinsip
pengukuran alternatif. Akhirnya, tulisan ini akan menjelaskan tentang metode-metode
pengungkapan informasi keuangan tentang elemen-elemen daftar keuangan.
ASUMSI-ASUMSI LINGKUNGAN
Asumsi-asumsi lingkungan yang dijadikan satu pondasi struktur akuntansi keuangan
adalah:
1. Asumsi entitas akuntansi (the accounting entity assumption)
2. Asumsi periode waktu (the periodicity or period time assumption)
3. Asumsi kelangsungan hidup (the going concern or continuity assuption)
4. Asumsi unit pengukuran atau moneter (the monetary or measuring unit
assuption)
Asumsi Entitas Akuntansi
Aktivitas ekonomi ditimbulkan oleh dunia usaha. Isi penting dari asumsi entitas
akuntansi adalah bahwa para akuntantan harus membukukan dan melaporkan
informasi akuntansi yang sungguh-sungguh merupakan informasi yang bersum-ber
dari aktivitas entitas. Asumsi ini membentuk batasan-batasan pada informasi dalam
daftar keuangan suatu entitas tertentu. Aktivitas ekonomi suatu entitas ha-rus
diperlakukan dalam akuntansi secara terpisah dengan aktivitas ekonomi pri-badi
pemilik entitas.
Entitas akuntansi di perlukan keberadaannya untuk tujuan laporan keuangan dari
satu entitas yang legal maupun terpisah. Sebagai contoh, entitas akuntansi dari
suatu perseroan terbatas (satu legal entitas) atau satu divisi, atau satu departemen
yang berada dalam satu legal entitas perseroan terbatas; atau satu kumpulan entitas
yang legal yang daftar keuangannya disajikan secara konso-lidasi. Dalam hal yang
terakhir, walaupun perusahaan induk dengan anak perushaannya meru-pakan
perusahaan-perusahaan yang terpisah legalitasnya, mereka harus mengkombinasikan
sebagai satu entitas akuntansi untuk tujuan laporan keuangan.
Asumsi Periode Waktu
Karakteristik lain dari lingkungan ekonomi adalah bahwa investor, kreditor dan pihak
lainnya yang ingin memutuskan keberlanjutan alokasi kekayaannya dalam satu
4
entitas membutuhkan informasi keuangan secara berkala untuk memban-tunya
dalam pengambilan keputusan. Oleh karenanya, untuk keperluan pihak luar
perusahaan yang memerlukan data keuangan secara periodik dalam entitas
akuntansi. Asusmsi periode waktu memberi arti bahwa aktivitas ekonomi selama
umur entitas akuntansi dianggap dapat dibagi kedalam berbagai pembagian pe-riode
waktu untuk tujuan laporan keuangan. Periode waktu yang digunakan dalam
pelaporan keuangan biasanya satu tahun, walaupun laporan keuangan se-lalu
disajikan dalam periode waktu yang lebih singkat seperti satu bulanan, triwulan atau
semesteran.
Asumsi Kelangsungan Hidup.
Lingkunagan ekonomi juga dikarakteristikan oleh entitas usaha yang berharapan
untuk melanjutkan operasinya dalam waktu yang terus menerus. Walaupun
terkadang adakalanya beberapa usaha yang mengalami kesulitan keuangan dan
dapat menghentikan operasinya, seperti terjadi dalam keadaan tidak normal.
Asumsi kelangsungan hidup memberi arti bahwa dalam ketiadaan bukti yang
bertentangan, dianggap bahwa usaha akan beroperasi secara berkesinambungan,
paling tidak selama masa perencanaan, komitmen dan perjanjian yang ada. Asumsi
ini dapat dijelaskan dengan baik dengan analog pada cara orang berke-lakuan
terhadap hidup. Kebanyakan orang tidak mempunyai alasan berharap mati dalam
waktu yang dekat dan berkelakuan seakan-akan hidup selama-lamanya, tetapi
terdapat bukti kuat bahwa orang akan mati. Walaupun mereka menyadari bahwa
meraka tidak dapat hidup selamanya, hingga ia menumui bukti kuat akan
kematiannya seperti umur tua atau sakit, mereka akan selalu terus berktivitas dan
berfikir seakan-akan ia akan tetap hidup selamanya. Sama halnya dengan para
akuntan menganggap bahwa entitas akuntansi memiliki suatu umur dimasa akan
datang yang tidak dapat ditentukan lamanya, kecuali didapatinya bukti kuat yang
menunjukkan bahwa operasi entitas akan terhenti. Jika satu entitas terlihat tidak
dapat berkelanjutan, dapat dilakukan perubahan metode akuntansi dan pelaporannya.
Seperti contoh, dengan melakukan laporan nilai likwidasi dalam daftar
keuangan jika terdapat keraguan atas ke-mampuan perusahaan untuk melanjutkan
operasinya dimasa yang akan datang. Akuntansi untuk entitas yang demikian ini
tidak dibahas dalam tulisan ini.
Asumsi Unit Pengukuran atau Moneter
Pertukaran dalam masyarakat Indonesia adalah dalam rupiah. Oleh karenanya,
bahwa rupiah atau yang sama dengan rupiah (transaksi tidak menggunakan uang
tunai) harus menjadi pengukuran hasil aktivitas ekonomi dari satu entitas akuntansi,
dan harus dilaporkan dalam rupiah. Persyaratan asumsi ini mene-kankan bahwa
rupiah mempunyai karakteristik yaitu stabil dalam berbagai waktu. Sepeti halnya
dengan ukuran panjang satu meter pada tahun 1965 harus-nya sama dengan
ukuran satu meter juga ditahun 2001, demikian juga halnya dalam rupiah. Nilai
rupih tahun 2001 harus sama dengan nilai rupiah pada tahun 1965. Dalam asumsi ini
terdapat kelemahan pengukuran dengan rupiah. Daya beli umum (general
purchasing power) rupiah pada tahun 2001 tidak sama dengan daya beli umum
rupiah pada tahun 1965.
Jika terjadi inflasi, daya beli umum rupiah menurun, banyak orang mempertanyakan
apakah rupiah dapat dijadikan sebagai unit pengukuran yang tepat untuk
tujuan pelaporan keuangan. Satu usulan alternatif adalah bahwa daya beli umum
rupiah harus tetap menjadi unit pengukuran dalam pelaporan keuangan.
©2003 Digitized by USU digital library 5
FASB statemen No. 89, issued in 1986, encourages, but does not require,
supplementary disclosures of the impact of inflation and changing of
prices on financial statement numbers.2
TUJUAN PELAPORAN KEUANGAN
Akuntansi dan pelaporan keuangan dipengaruhi lingkungan ekonomi dimana praktek
akuntansi dan pelaporan keuangan itu dilakukan. Sama halnya dengan tujuan
pelaporan keuangan juga dipengaruhi oleh lingkungan ekonomi, terma-suk kegunaan
dan para pengguna informasi akuntansi keuangan. Tujuan pela-poran keuangan
dipengaruhi oleh karakteristik dan keterbatasan informasi yang disajikan daftar
keuangan. Sebelum memperhatikan lebih lanjut tentang tujuan pelaporan keuangan,
terlebih dahulu akan dijelaskan tentang karakteris-tik dan keterbatasan informasi
daftar keuangan yang disajikan pada praktek akuntansi yang ada.
Karakteristik dan Keterbatasan Informasi Daftar Keuangan.
Daftar keuangan menyajikan informasi yang bersifat keuangan dan umunya
terkuantifikasi dan dinyatakan dalam satuan uang. Informasi lainnya dapat dijelaskan
didalam daftar keuangan, kebanyakan isi daftar keuangan melibatkan
proses penambahan, pengurangan, pengalian dan pembagian angka-angka.
Memenuhi persyaratan dalam GAAP, pengukurannya dinyatakan dalam satuan uang.
Oleh karenaya satu diantara kelemahannya adalah bahwa unit pengukuran dibuat
hanya dalam satuan uang.
Angka-angka yang dilaporakan daftar keuangan sering merupakan ukuran kira-kira
ketimbang yang bersifat pengukuran eksak. Angka yang dilaporakan melibatkan
estimasi, alokasi, iktisar klasifikasi dan pertimbangan. Oleh kare-nanya pengukuran
presisi terabaikan dalam daftar keuangan. Hal ini merupakan keterbatasan kedua
dari informasi yang disjikan dalam daftar keuangan. Sebagai contoh adalah beban
penyusutan dilaporkan dalam daftar perhitungan laba-rugi untuk satu periode
didasarkan satu konvensi akuntansi, seperti metode garis lurus, bukanlah suatu
metode yang dapat mengukur jum-lah harta tersusutkan secara nyata selama
dalam pemakaiannya.
Daftar keuangan menyajikan informasi terutama menyangkut pencerminan pengaruh
transaksi dan kejadian yang telah terjadi, dari pada hal-hal yang menyangkut
harapan dan proyeksi di masa akan datang. Walaupun estimasi-estimasi merupakan
didasarkan pada harapan dimasa akan datang mungkin digunakan dalam pelaporan
keuangan, namun normalnya, digunakan untuk menentukan pengaruh keuangan
dari transaksi atau kejadian masa lalu atau menentukan status harta dan hutang
pada saat kini. Sebagai contoh, dalam kasus harta yang dapat menyusut, ditaksir
umur pakainya dan nilai sisanya dimasa akan datang dalam perhitungan penentuan
beban penyusutan untuk menyempurnakan periode akuntansi. Kenyataan bahwa
daftar keuangan menyajikan informasi yang sebahagian besar bersifat masa lalu, ini
merupakan keterbatasan dari informasi daftar keuangan.
2 Financial Reporting and Changing Prices, Statement of Financial Accounting Concepts No. 89 (stamford,
Conn.: FASB, 986)
6
Peranan dan Objectivitas Akuntansi dan Pelaporan Keuangan
Peranan akuntansi dan pelaporan keuangan adalah untuk menyajikan informasi yang
bersifat netral dan tidak bias yang membantu meningkatkan efisiensi alokasi sumber
kekayaan yang terbatas pada pasar modal dan lainnya. Daftar-daftar keuangan juga
disajikan berdasarkan pada tujuan eksternal pelaporan keuangan diarahkan pada
kepentingan umum pengguna daftar keuangan yaitu kemampuan perusahaan
menperoleh arus kas positif dari operasinya. Objektivitas pelaporan keuangan
dihubungkan dengan keterlibatan peranan akuntansi dan pelaporan keuangan dan
diarahkan pada tujuan umum pelaporan keuangan oleh satuan usaha.
Terdapat 3 dasar objektivitas pelaporan keuang yang terdapat dalam Statement of
Financial Accounting Concept No. 1 yaitu:
1. Financial accounting should provide information that is useful to present and
po-tential investors and creditors and other users in making rational
investment, credit and similar decisions. The Information should be
comprehensible to those who have a reasonable understanding of business
and economic activities and are willing to study the informatin with
reasonable diligence.
2. Financial reporting should provide information to help present and potential
inves-tors and creditos and other users to assess the amounts, timing, and
uncertaninty of prospective cash receipts from dividends or interest and the
proceed from the sale, redemption, or maturity of securities or loans. Since
investors’ and creditors’ cash flows are related to enterprise cash flows,
financial reporting should provide information to help investors and creditors
and other assess the amounts, timing, and uncertainty prospective net cash
inflows to the related enterprise.
3. Financial reporting should provide information about the economic resources
of enterprise, wich are sources, direct or indirect, of future cash inflows; the
claims to those resources (obligation of the enterprise to transfer resources to
other entities and owners’ equity), wich are sources, direct or indirect, or
future cash outflows; and the effect of transactions, events, and circumtances
that cause changes in resources and claims to those resources.3
Objektivitas laporan keuangan membutuhkan satu fokus agar supaya tidak menjadi
kabur atau abstrak. Oleh karenanya, objektivitas menekankan pada informasi yang
bermanfaat untuk keputusan-keputusan investasi dan kredit. Para inestor, kreditor
dan penasehatnya merupakan pemakai informasi daftar keuangan yang berada di
luar perusahaan. Mereka sedikit sekali memperoleh penjelasan informasi keuangan
yang mereka butuhkan. Mereka memperoleh informasi yang dibutuhkan sama
seperti umumnya kelompok pengguna lainnya yang berkepentingan atas keuangan
perusahaan.
Ketiga dasar objektivitas laporan keuang diatas adalah sangat penting sebab
ketiganya menyajikan sesuatu yang berharga yang membantu didalam peme-cahan
masalah-masalah khususnya menyangkut akuntansi dan laporan keu-angan. Ketiga
objektivitas adalah merupakan bahagian dari laporan keuangan bukan merupakan
3 “Objectives of Financial Reporting by Business Enterprises,” Statement of Fainancial Accounting Concepts No.
1 (Stamford, Conn.: FASB, 1978)
©2003 Digitized by USU digital library 7
tujuan dari para investor, kreditor atau kelompok lainnya yang menggunakan
informasi daftar keuangan. Oleh karenanya konsisten dengan peranan penyajian
informasi keuangan yang bermanfaat dalam membuat keputusan ekonomi, dan
bukan membantu untuk dapat menentukan keputusan apa yang harus diambil.
Objektivitas pertama adalah luas dan berfokus pada informasi yang bermanfaat
dalam pengambilan keputusan bagi investor dan kreditor. Objektivitas ini
menekankan informasi yang bermanfaat baik secara langsung maupun tidak dengan
kepentingan organisasi. Para investor, kreditor dan lainnya yang meng-gunakan
informasi keuangan memiliki tingkat pemahaman informasi keuangan yang
bervariasi. Cara dan perhatian mereka dalam menggunakan informasi juga sangat
bervariasi. Informasi keuangan adalah alat, oleh karenanya tidak dapat banyak
membantu bagi mereka yang tidak memamahaminya, bagi mereka yang tidak
berkeinginan menggunakannya, atau bagi mereka yang tidak memerlu-kannya.
Dengan demikian, khususnya, objektivitas pertama laporan keuangan harus
menyajikan informasi yang dapat digunakan oleh orang-orang yang yang memiliki
latar belakang pemahaman aktivitas usaha dan ekonomi yang memadai dan
berkeinginan untuk menggunakan informasi secara tepat.
Objektivitas kedua lebih menjurus pada kepetingan investor, kreditor dalam
penerimaan uang tunai sebagai hasil dari investasi atau pinjaman yang diberikan
kepada perusahaan. Objektivitas ini juga menghubungkan prospek penerimaan tunai
bagi para investor dan kreditor dengan prospek penerimaan uang tunai bagi
perusahaan. Kemampuan perusahaan membayar dividen dan bunga, seperti yang
terjadi dalam pasar saham, dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan mencip-takan
arus kas yang menguntungkan. Oleh karenanya, untuk menentukan prospek arus
kas mereka, para investor, kreditor dan lainnya dapat memperoleh informasi yang
membantunya menentukan jumlah, waktu dan ketidak pastian harapan perolehan
uang tunai dari perusahaan bersangkutan.
Objektivitas ketiga menekankan jaminan informasi tentang keterbatasan sumbersumber
ekonomi yang dibutuhkan untuk dapat menjalankan aktivitas ekonomi, klaim
atas sumber-sumber, dan perubahan atas sumber-sumber ekonomi dan kewajibankewajiban
yang dibawa oleh aktivitas mendapatkan pendapatan atau aktivitas
operasi lainnya. Informasi seperti ini membantu investor, kreditor dan lainnya untuk
menyatakan kelemahan dan kekuatan keuangan perusahaan, menentukan
kemampuan perusahaan untuk membayar hutang jangka pendek dan jangka
panjang. Lebih dari itu, laporan juga menyajikan secara langsung indikasi adanya
potensi arus kas dari beberapa sumber dan kebutuhan kas untuk melunasi berbagai
kewajiban. Walaupun banyak arus kas yang tidak dapat di hubungkan dengan
sumber-sumber dan kewajiban-kewajiban khusus, namun sebagai peng-gantinya,
dapat terlihat dari kombinasi sumber-sumber didalam aktivitas operasi perusahaan.
Atas dasar alasan ini, laporan keuangan harus menyajikan informasi tentang kinerja
keuangan perusahaan, yang diperlihatkan dalam perolehan keuntungan dalam satu
periode. Sesuai dengan FASB, “the primary focus of financial reporting is information
about an enterprise’s performance provided by measures of earnings and its
components.4 Para investor dan kreditor dapat menggunakan evaluasi kinerja
perolehan keuntungan perusahaan untuk memben-tuk harapan kinerja keuntungan
di masa akan datang, yang menjanjikan harapan arus kasa atas investasi atau
pinjaman yang diberikan kepada perusahaan.
4 Ibid., para. 43
8
KARAKTERISTIK KUALITAS
INFORMASI AKUNTANSI YANG BERMANFAAT
Objektivitas laporan keuangan berfokus pada pemberian informasi yang ber-manfaat
bagi para penggunanya dalam membuat keputusan ekonomi. Oleh ka-renanya,
tahap selanjutnya dalam struktur teori akuntansi adalah karakteristik kualitas
informasi yang bermanfaat. Kasrakteristik kualitatif memberikan satu dasar
pemilihan antara berbagai alternatif pelaporan dan akuntansi, seperti alternatif
metode penyusutan, alternatif metode penilaian harta, dan alternatif metode
penjelasan. Karakteristik kualitatif juga membantu menjawab perta-nyaan tentang
karakteristik informasi akuntansi apa yang membuat informasi bermanfaat dalam
pengambilan keputusan.
Peragaan 2 menggambarkan satu jenjang karakteristik kualitas. Kotak-kotak
didalamnya menunjukkan para pengambil keputusan dan kebergunaan kepu-tusan
sehubungan dengan karakteristik kualitas yang menekankan pada keber-gunaan
informasi bagi para pengambilan keputusan. Understandability berarti bahwa
pengguna harus memahami informasi yang dimaksud bermanfaat dalam
pengambilan keputusan. Understandability merupakan satu kualitas khusus
pengguna karena informasi yang yang memiliki kualitas lain mungkin berguna pada
beberapa pengguna tetapi tidak untuk yang lain, bergantung pada bagai-mana para
pengguna khusus memahami dengan baik informasi yang ada. Ingat bahwa kualitas
objektivitas laporan keuangan yang pertama adalah informasi harus conprehensible
terhadap siapa yang memiliki latar belakang pemahaman usaha dan aktivitas
ekonomi dan siapa yang berkeinginan untuk mempelajari informasi tersebut. Oleh
karenanya, karakteristik ini menjelaskan bahwa laporan keuangan harus tidak
mengenyampingkan informasi yang bermanfaat karena informasi yang sulit
dimengerti. Upaya khusus, seperti tambahan pendidikan, mungkin diperlukan untuk
meningkatkan pemahaman seorang pengguna informasi keuangan.
Karakteristik Kualitas Utama
Karakteristik kualitas utama (primary Qualitative Characteristics) yang membuat
informasi akuntansi bermanfaat adalah relevance dan reliability. Kedua karakterstik
ini disebut kualitas utama disebabkan informasi harus memiliki dua kualitas
ini untuk menjadi bermanfaat.
Relevan
Relevan berarti bahwa informasi akuntansi berkemampuan untuk membuat
perbedaan didalam satu keputusan. Untuk menjadi relevan, informasi harus dapat
memberi ketegasan atau memberi pengaruh perubahan atas harapan pembuat
keputusan. Jika informasi memberi ketegasan atas harapan, berarti memberikan
peningkatan kemungkinan hasil yang diharapkan. Jika memberi pengaruh perubahan
atas harapan, berarti memberikan perobahan pemikiran atas kemungkinan
perolehan penghasilan yang sebelumnya telah diharapkan. Dengan cara dem-kian,
informasi yang relevan memberikan satu perbedaan bagi seorang pengambil
keputusan yang tidak bersiap memperoleh informasi itu. Dengan suatu relevansi
informasi bukan berarti bahwa satu keputusan musti harus siap untuk dirubah atau
suatu penyebab tindakan harus siap untuk dipilih. Jika seseorang memilih untuk
mempertahankan investasi dari pada harus menjualnya, informasi yang
©2003 Digitized by USU digital library 9
Peragaan 2
A HIERARCHY OF ACCOUNTING QUALITIES
sers of
Accounting Information
Pervasive
constraint
User - specific
Qualities
Primary
Decision-specipic
Qualities
Ingredients
of primary
quality
Secondary and
interactive
qualities
Theshold for
Recognition
Decision makers
And their characteristics
(for example, understanding
or perio knoledge)
Benefits > Costs
Understandbility
Decision usefulness
Relevance Reliability
Predictive
vakue
Feedback
value
Timelines Verifiab
ility
Represent
ational
faitfulness
Comparability
(including
consistency)
Neutrality
Materiality
10
mendukung untuk mempertahankannya harus relevan, demikian juga dengan
informasi yang menyebakan investor untuk menjualnya harus relevan.
Nilai prediksi (prdictive value) dan nilai unpan balik (feedback value) adalah dua
komponen dari relevan. Informasi dapat memberi pengaruh pada satu keputusan
dengan menambah atau memperbaiki kemampuan pembuat keputusan untuk
memprediksi - Nilai prediksi. Sebagai contoh, jika dilaporkan laba per lembar saham
akan membantu memprediksi bagi pemberi pinjaman yang ada, dan juga laba per
lembar saham memiliki nilai prediksi bagi seorang pegawai bank untuk satu
pinjaman bank. Information dapat mempengaruhi satu keputusan untuk tetap
melakukan atau memperbaiki harapan pembuat keputusan sebelumnya – nilai
umpan balik. Sebagai contoh, Jika dilaporakan laba per lembar saham yang
dikonfirmasikan pada harapan para pemegang saham tentang kemampuan
perusahaan memperoleh laba perlembar saham atau menyebabkan pemegang
saham merubah harapannya, tentunya laba per lembar saham telah memberikan
nilai umpan balik kepada pemegang saham. Sering informasi mem-berikan
keduanya sekali gus, sebab pengetahuan tentang hasil dari suatu tindakan yang baru
diperoleh secara umum akan memperbaiki kemampuan pembuat keputusan untuk
memprediksi hasil seperti itu dimasa akan datang. Sebagai contoh, kesimpulan yang
menyatakan perbaikan perolehan arus kas bersih setelah dilakukan akuisisi satu
anak perusahaan, mungkin akan membantu para peme-gang saham memprediksi
srus kas bersih sebagai akibat akuisisi dimasa akan datang. Nilai predisi dan nilai
umpan balik sesuai dengan objektivitas laporan keuangan kedua yang menyajikan
informasi membantu para pengguna mempre-diksi dan menentukan arus kas yang
akan diperoleh.
Ketepatan waktu adalah komponen ke-tiga dari relevan. Jika informasi akuntansi
diharapkan mampu mempengaruhi satu keputusan, informasi harus tersedia pada
saat keputusan itu dibuat. Ketepatan waktu itu sendiri tidak dapat membuat
informasi menjadi relevan, tetapi tanpanya, informasi tidak menjadi relevan.
Terdapat banyak situasi yang harus dipertimbangkan bagi informasi akuntansi yang
presisi sebagai informasi yang tepat waktu. Sebagai contoh, walaupun daftar
keuangan interim (kuartalan) biasanya kurang lengkap dan kurang presisi dari pada
daftar keuangan tahunan, tetapi ia lebih tepat waktu. Ingat, hubungan atara
ketepatan waktu dengan asumsi periode waktu dan pelaporan periodik. Perlunya
ketepatan waktu suatu informasi keuangan adalah satu alasan kuat mengapa
aktivitas ekonomi dipilah kedalam periode waktu dari tujuan pelaporan keuangan.
Dapat Dipercaya
Dapat dipercaya (Reliability) berarti bahwa seorang pengguna dapat
menggantungkan atau memiliki keyakinan pada informasi yang dilaporkan. Informasi
akuntansi dipertimbangkan dapat dipercaya (reliability) jika informasi secara nyata
menyatakan apa yang dimaksud, apa yang diungkapkan dan dapat diuji
kebenaranya.
Ungkapan yang jujur (representational faithfulness) berarti bahwa terdapat
kesesuaian antara satu ukuran keuangan atau penjelasan dan phenommena
aktivitas ekonomi yang diukur atau dijelaskan. Dalam akuntansi, sumber-sumber
ekonomi, kewajiban dan kejadian-kejadian yang membawa perubahan sumbersumber
dan kewajiban-kewajiban dinyatakan dalam laporan keuangan. Sebagai
ilustrasi, katakanlah PT. Yudistira mendapatkan hak khusus dalam menggunakan
tayangan reklame produknya pada RCTV selama 10 tahun. Tentu PT. Yudistira harus
©2003 Digitized by USU digital library 11
melaporkan dalam daftar laporan keuangnnya tentang adanya hak tayang reklame
sebagai harta dan kewajiban membayar kepada RCTV sebagai hutang. Penjelasan
akan dibuat dalam daftar keuangan oleh PT. Yudistira dengan ung-kapan yang jujur
sehubungan dengan manfaat yang diperoleh dan kewajiban yang dibayarkan.
Daya Uji (verifiability) meningkatkan jaminan bahwa pengukuran-pengukuran
akuntansi menyatakan apa yang terukur pada saat itu. Statement of Financial
Accounting Concept No. 2 menyatakan bahwa “verifiable financial accounting
information provides results that would be substantially duplicated by independ-ent
measurers using the same measurement methods.”5 Dengan itu, verifikasi
menekankan satu konsensus diantara para akuntan dalam pengukuran kejadiankejadian
ekonomi dan cara untuk melaporkannya. Sebagai contoh, jumlah kas
dilaporkan dalam neraca memiliki daya uji yang tinggi. Nilai buku dari harta yang
dapat disusutkan, tentu memiliki daya uji yang rendah disebabkan para akuntan
dapat menggunakan metode yang berbeda dalam menetukan nilai perolehan, nilai
sisa, taksiran umur pakai dari harta tersebut. Objektivitas sering digunakan sebagai
satu sinonim dari verifiabilitas.
Relevan versus Dapat Dipercaya
Informasi akuntansi harus mempunyai kedua tingkat relevan dan reliabilitas untuk
dapat dikatakan sebagai informasi yang bermanfaat dalam pembuatan keputusan.
Relevan dan reliabilitas sering bertentangan satu sama lainnya. Adalah hal yang
yang perlu dalam beberapa situasi untuk mengucilkan tingkat relevan agar supaya
meningkatkan reliabilitas atau mengucilkan tingkat relia-bilitas agar supaya
meningkatkan relevan. Sebagai contoh, terdapatnya berbagai hal yang kontroversi
dalam menyimpulkan peramalan keuangan dalam laporan tahunan. Banyak orang
percaya bahwa peramalan memberikan kepada para pengguna informasi yang
relevan untuk dapat memperoleh masukan arus kas satu perusahaan dimasa yang
akan datang. Orang lain percaya bahwa informasi yang terisi dalam satu peramalan
adalah sangat tidak realibel, sebab subjektivitas dari penaksiran terlibat dalam usaha
memperoleh masukan kejadian dimasa yang akan datang. Sebagai contoh lainnya
dari ketidak sesuaian atara relevan dan reliabilitas, informasi tentang nilai sekarang
(current value) dari harta perusahaan mungkin lebih relevan dari pada informasi
dengan nilai masa lampau (historical cost), tetapi informasi nilai masa lampau akan
lebih reliabel dibanding dengan informasi nilai sekarang.
Karakteristik Kualitas Kedua
Walupun informasi harus memiliki kandungan relevan dan reliabitas agar dapat
menjadi informasi yang bergunan, karakteristik lainnya juga diperlukan. Karakteristik
kedua pada peragaan 2 adalah neutrality dan comparability. Karakteristik ini
diklasifikasikan sebagai karakteristik yang ke dua disebabkan kualitas infor-masi ini
diperlukan, tetapi tidak sebegitu pentingnya dibanding dengan relevan dan
reliabilitas.
Netral (Neutrality) berarti bahwa informasi akuntansi harus netral, atau tidak
memihak yang memberikan dampak pada perilaku para pengguna informasi. Oleh
karena informasi akuntansi memberi pengaruh terhadap lingkungannya, maka
dipandang penting bahwa informasi akuntansi harus bersifat netral atau tidak bias.
5 “Qualitative Characteristics of Accounting Information, “Statement of Financial Accounting Concepts No. 2
(Stamford, Conn.: FASB, 1980), para. 82
12
Sementara, laporan keuangan terdukung pada satu konsekwensi ekonomi umum,
seperti alokasi sumber kekayaan, oleh karenanya informasi harus bersifat netral dari
segala konsekwensi lainnya. Sebagai contoh, laporan keuangan tidak harus
terdukung oleh pencapaian tujuan ekonomi khusus, seperti peningkatan usahausaha
penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh perusahaan.
Daya Banding (Comparability) berarti kebergunaan informasi akuntansi dalam
pengambilan keputusan akan jadi meningkat jika informasi tersebut dapat diperbandingkan
dengan informasi yang sama dari entitas akuntansi yang lain atau
dengan informasi yang berasal dari entitas akuntansi yang sama dalam tahun yang
berbeda. Daya banding antar perusahaan (interfirm comparablity) diperoleh jika
perusahaan menggunakan prosedur akuntansi yang sama pada saat perusa-haan
dihadapi dengan kejadian ekonomi yang sama. Hal ini merupakan alasan
pemeriksaan daftar keuang harus disajikan sesuai dengan GAAP. Suatu contoh dari
daya banding antar perusahaan otomotif Chrysler dan Ford yang keduanya
menggunakan LIFO didalam akuntansi persediaan otomobil. Daya banding antar
periode (interperiode comparability) atau perlakuan sama (consistency), mensyaratkan
penerapan prosedur akuntansi secara perlakuan sama. Kesesuaian dengan
GAAP dan perlakuan sama dijelaskan dalam pendapat standar yang dikeluarkan oleh
pemeriksa bebas (independent auditor):
In our opinion, the aforementioned financial statements present fairly
the financial position of XYZ coporation at December 19xx, and the
results of its operations and changes in its financial posistion for the
year ended, in comformity with generally accepted accounting principles
applied on basis consistent with that of the preceding year.
Perlakuan sama tidak berarti bahwa suatu entitas tidak boleh melakukan suatu
perubahan didalam praktek akuntansi, seperti suatu perobahan dari akuntansi
persediaan LIFO menjadi FIFO. Jika suatu perubahan terjadi, tentunya merupakan
akibat dari suatu perubahan keadaan ekonomi. Sifat dari perubahan itu dan
pengaruhnya pada daftar keuangan harus dijelaskan. Dalam prakteknya, entitas
harus juga dapat menunjukkan bahwa praktek akuntansi yang baru lebih memberi
keuntungan dari pada praktek akuntansi yang lama dikarenakan peru-bahan
keadaan ekonomi yang berjalan.
Pertimbangan-Pertimbangan dan Kendala-Kendala lainnya
Dua konsep lainnya yaitu information benefit versus information costs dan materiality,
juga terlihat pada peragaan-2. Kenyataan yang terjadi, penerapan konsepkonsep
ini dapat merubah pilihan suatu praktek akuntansi atau pelaporan yang
dibuat jika hanya didasari pada satu pertimbangan nyata dari karakteristik kualitas.
Manfaat Information Versus Biaya Information
Penyajian informasi akuntansi memerukan biaya yang tidak murah, oleh kare-nanya
penyusun standard akuntansi harus mempertimbangkan apakah manfaat yang
ditimbulkan dari penjelasan akuntansi lebih besar dibanding dengan biaya membuat
penjelasan tersebut. Misalnya, apakah perlu menjelaskan tentang efek-tivitas nilai
sekarang (current value) dari biaya informasi? Banyak orang menga-takan tidak
perlu, sebab biaya penyajian penjelasan nilai sekarang akan lebih besar dibanding
dengan manfaat yang diperoleh oleh pengguna penjelasan itu.
©2003 Digitized by USU digital library 13
Apa yang membedakan informasi akuntansi dengan komoditas yang diperdagangkan
di pasar? Komoditas yang didagangkan dipasar adalah barang-barang yang
memiliki kepentingan pribadi (private goods): sehubungan dengan manfaat dan
biaya dari barang yang demikian itu dapat ditelusuri pada pembeli ataupun penjual.
Berbeda dengan informasi akuntansi yang merupakan barang umum (publik goods),
dan manfaat informasi akuntansi sering tidak dapat dibatasi kepada siapa yang
membayar untuk itu. Lebih lanjut, biaya penyajian informasi dapat diabaikan secara
luas. Sangat sulit untuk menentukan manfaat versus biaya dari barang umum,
seperti halnya informasi akuntansi, penerapan hukum “bene-fite must exceed cost”
merupakan masalah pemilihan antara berbagai praktek-praktek pelaporan dan
akuntansi yang sangat subjektif. Tidak pernah terjadi evaluasi manfaat dan biaya
yang berhubungan dengan pelaporan akuntansi.
Materialitas
Informasi dinyatakan material jika mempunyai pengaruh yang signifikan dalam satu
keputusan pengguna. Materialitas menghendaki secara tidak langsung bahwa
general accepted accounting principles perlu diikuti secara tegas hanya dalam
pelapoan dan akuntansi untuk item-item yang bersifat material.
Materialiti merupakan satu pertimbangan penting yang memiliki suatu pengaruh
dalam praktik pelaporan dan akuntansi, sebagaimana diilustrasikan dalam pernyataan
yang tertera pada akhir FASB Statement of Finacial Accounting Standards: “
The provisions of this Statement need to applied to immaterial item.” Pertimbangan
materialiti telah dinyatakan dalam kasus-kasus pertimbang-an pengadilan. Dalam
satu kasus, pertimbangan hukum menyatakan bahwa suatu fakta material adalah
suatu “wich if it had been correctly stated or disclosed would have deterred or
tended to deter the average prudent investor from purchasing the securities in
question.”6 Materialiti merupakan konsep yang didalamnya terdapat ketidak tegasan
yang menyebabkan tergantung pada: (1) jumlah relatif uang dari suatu item, (2)
sifat suatu item (seperti pembayaran legal versus pembayaran tidak legal), (3)
beberapa kombinasi dari jumlah relatif uang dan sifat item. Contoh, kebijakan Exxon
mencatat pembelian sebuah keranjang sampah sebesar Rp. 20.000,- sebagai beban
sebagai menggantikan pencatatan sebagai harta (keranjang sampah memiliki
potensi manfaat jasa di masa datang) karena dipandang tidak material dibandingkan
dengan jumlah uang dari total keseluruhan hartanya. Suatu kebijakan untuk
mengungkapkan satu pinjaman kecil dari seorang karyawan perusahaan didalam
daftar keuangan untuk pihak luar, dalam hal lain, mungkin lebih didasarkan kepada
sifat transaksi dari pada jumlah uang yang dipinjamkan. Akhirnya, batasan
materialitas dapat bervariasi dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Contoh,
kerugian Rp. 700.000,- dalam suatu persidangan perkara yang berlangsung
dipandang material bagi banyak perusahaan, namun mungkin tidak material bagi
perusahaan besar seperti Exxon. Oleh karenan pertimbangan materialiti sering
melibatkan beberapa faktor yang bergantung pada keadaan suatu perusahaan, FASB
belum mendapatkan kelayakannya untuk membentuk satu pedoman materialiti
secara umum.
6 Escott et al. v. BarChris Construction Corporation et al. 283 Fed. Supp. (District Curt S.D., New York, 1968) p.
681.
14
ELEMEN-ELEM DAFTAR KEUANGAN
Elemen-elemen daftar keuangan adalah “the building block with which financial
statement are constructed – the classes of items that financial statements comprise.”
7 Elemen-elemen dasar – harta, hutang, ekuitas, pendapatan, beban, keuntungan
(gain), kerugian (loss), dan laba/rugi bersih – adalah gambaran atau
pernyataan ungkapan dari sumber-sumber ekonomi suatu entitas, klaim atau hak
atas sumber-sumber tersebut, dan pengaruh transaksi keuangan atau kejadiankejadian
ekonomi lainnya yang menyebabkan perubahan dalam sumber ekonomi
atau klaim atas sumber dimaksud.
Definisi elemen-elemen daftar keuangan adalah penting sebab definisi membe-rikan
pedoman didalam menentukan bagaimana satu transaksi atau kejadian ekonomi
lainnya harus diakuntansikan dan dilaporkan dalam daftar keuangan. Misalnya,
anggaplah bahwa satu perusahan pabrikasi tiba-tiba menemukan pada sebidang
tanah yang dimilikya dimana diatasnya terdapat bangunan terdapat beribu ton
mineral yang berharga. Apakah mineral tersebut dicatat sebagai harta? Apakah
penemuan tersebut menimbulkan pendapatan? Sebagai contoh lainnya, anggaplah
sebuah perusahaan besar membentuk suatu perencanan pensiun untuk para
karyawannya. Perusahaan menyetujui untuk memberikan pinjaman kredit kepada
karyawan mengingat jasa yang telah diberikannya sebelum rencana tersebut
dilaksanakan sebagai manfaat pensiun sebelum karyawan berhenti bekerja. Adakah
kewajiban untuk membayar manfaat kepada siapa yang menerima pinjaman yang
diberikan perusahaan (sebagai hutang) pada saat rencana pensiun dibentuk?
Contoh-contoh dan pertanyaan-pertanyaan tersebut mengambarkan pentingnya
definisi berbagai elemen daftar keuangan.
Harta
Harta adalah manfaat ekonomi di masa datang yang mungkin diperoleh atau
dikendalikan oleh satu entitas tertentu sebagai satu akibat dari transaksi atau
peristiwa masa lalu. Ada tiga karakteristik penting yang dijelaskan dalam definisi
tersebut. Pertama, satu harta memiliki manfaat ekonomi di masa datang atau jasa
potensi di masa datang yang membentuk arus kas positif. 8 Kedua, satu entitas
dapat memperoleh manfaat ekonomi di masa datang dari penggunaan harta dan
dapat mengendalikan entitas lain yang menggunakan manfaat tersebut. Contoh, satu
jalan negara dibangun didepan pabrik suatu perusahaan, tentunya memberikan
kemungkinan manfaat bagi perusahaan. Namun, jalan tersebut bukanlah harta
perusahaan sebab entitas lain dapat dengan bebas menggunakan manfaat jalan
tersebut. Beda halnya dengan pembangunan jalan masuk kedalam areal pabrik yang
dibangun oleh perusahaan adalah harta perusahaan. Ketiga, transaksi yang
menimbulkan manfaat ekonomi di masa datang telah terjadi, artinya manfaat
ekonomi masa datang tidak bergantung pada transaksi atau peristiwa di masa
datang. Untuk mengilustrasikannya, satu kontrak dapat menyerukan kepada satu
perusahaan untuk membeli satu barang khusus yang diserahkan oleh perusahaan
7 Elements of Financial Statements, “Statement of Financial Accounting Concepts No. 6 (stamford, Conn.:
FASB, 1985), para. 5
8 Arus kas positif dapat secara langsung atau tidak langsung. Contoh, satu perkiraan piutang memiliki satu
manfaat arus kas langsung dimasa datang. Dalam hal lain arus kas masuk yang berhubungan dengan sebuah
mesin adalah tidak langsung, jika mesin digunakan untuk memproduksi satu produk yang kemudian dijual untuk
memperoleh kas.
©2003 Digitized by USU digital library 15
kedua pada masa datang. Perusahaan yang menanda tangani kontrak pembelian
tersebut untuk membeli barang-barang tersebut tidak memperlakukannya sebagai
harta perusahaan sebab penyerahan barang tersebut belum terjadi. Peristiwa seperti
ini adalah suatu persetujuan janji yang disebut dengan executory contract. Pada
saat sekarang ini, hak-hak yang tedapat dalam satu execotory contact tidak
dipandang memiliki karakteristik suatu harta.
Hutang
Hutang adalah pengorban yang mungkin terjadi di masa datang dari manfaat
ekonomi yang timbul dari kewajian sekarang satu entitas untuk menyerahkan harta
atau jasa kepada entitas lain di masa datang sebagai akibat dari transaksi atau
peristiwa dimasa datang. Ada tiga karakteristik hutang yang terlihat dalam definisi
tersebut. Pertama, satu hutang mewajibkan satu perusahaan menyerahkan kas atau
harta lainnya atau jasa pada masa akan datang. Contoh, hutang dividen dalam
bentuk kas adalah hutang sebab pengumuman satu dividen tunai mewajib-kan
perusahaan untuk menyerahkan kas kepada pemegang saham pada saat tang-gal
pembayaran jatuh tempo. Pembagian dividen dalam bentuk saham, pada saat
pengumumannya tidak menimbulkan adany hutang sebab kewajiaban perusahaan
adalah membagi-bagikan saham yang dimiliki perusahaan, senbagai ganti kas, atau
harta lain atau jasa, kepada pemegang saham. Kedua, kewajiban untuk menyerahkan
harta atau jasa harus nyata kepada satu entitas tertentu. Contoh, Jika
perusahaan A menjamin untuk membayar sebuah wesel (note) yang dikeluarkan
oleh perusahaan B jika terjadi peristiwa perusahaan B tidak mampu melunasinya
pada saat jatuh tempo. Perusahaan A tidak terrbebani satu hutang sebagai akibat
dari jaminan tersebut. Kewajiban perusahaan sebagai penjamin akan menjadi
hutang hanya jika perusahaan B gagal untuk membayar wesel tersebut. Ketiga,
Transaksi atau peristiwa yang mewajibkan satu entitas menyerahkan harta atau jasa
harus telah benar terjadi. Kembali pada contoh definisi harta diatas, perse-tujuan
untuk membeli barang di masa datang tidak menimbulkan hutang. Satu kewajiban
untuk membayar harga barang timbul hanya jika barang tersebut telah diterima
dimasa datang.
Ekuitas
Equitas atau harta bersih adalah hak residu dari perusahaan setelah kewajibanya
telah dikurangi. Sebabnya ekuitas itu merupakan hak residu adalah karena ekuitas
tidak dapat diukur secara bebas dari pengaruh harta dan hutang. Hubung-an antara
harta, hutang dan ekuitas dalam basis persamaan akuntansi adalah:
Harta = Hutang + Ekuitas
atau ditransformasi sebagai:
Ekuitas = Harta – Hutang
Ekuitas, terkadang disebut juga sebagai ekuitas pemegang saham (stockholders’
equity) atau ekuitas pemilik (owners’ equity). Investasi oleh para pemilik dan
pendistribusian modal kepada pemilik disebut transaksi ekuitas (equity transaction)
atau transaksi modal (capital transaction). Satu transaksi penjualan saham milik
perusahaan merupakan investasi oleh pemilik. Dividen tunai yang diumumkan dan
dibayar oleh satu perusahaan kepada pemegang saham biasa disebut sebagai
pendistribusian kepada pemilik. Keduanya, pengeluaran saham dan pembayaran
dividen adalah transaksi ekuitas.
16
Pendapatan
Pedapatan adalah arus masuk harta atau penyelesaian hutang, atau keduanya,
selama satu periode sebagai akibat dari penyerahan atau produksi barang, pemberian
jasa, atau aktivitas yang mendatangkan keuntungan lainnya yang merupakan
operasi utama satu entitas. Ada dua karakteristik penting pendapatan yaitu
pendapatan (1) timbul dari aktivitas yang mendatangkan keuntungan utama, (2)
sifatnya, terjadi berulang-ulang atau berkelanjutan. Contoh, penjualan secara
grosiran oleh satu supermarket tiap tahunnya menghasilkan pendapatan, semen-tara
penjualan tanah milik satu supermarket yang dekat dengan gudang bukanlah
sebagai pendapatan melainkan menghasilkan keuntungan (gain) atau kerugian
(loss). Keutungan dan kerugian akan didefinisikan dan dibedakan dengan
pendapatan dan beban berikutnya). Para ahli teori akuntansi terkadang menjelaskan
pendapatan sebagai “keberhasilan entitas” (entity accomplishment) atau
“produk usaha” (product of enterprise)
Beban
Beban adalah arus keluar harta atau timbulnya hutang, atau keduanya, selama satu
periode sebagai akibat dari penyerahan atau produksi barang, pemberian ja-sa, atau
aktivitas yang mendatangkan keuntungan lainnya yang merupakan ope-rasi utama
satu entitas. Karakteristik utama beban adalah terjadi didalam proses pembentukan
pendapatan. Menunjuk pada contoh supermarket yang telah dite-rangkan terdahulu,
gaji karyawan yang bekerja di supermarket adalah merupakan beban. Beban
kadangkala dijelaskan sebagai “usaha entitas” (entity efforts) atau “pengorbanan
entitas” yang dihubungkan dengan perolehan pendapatan.
Keuntungan dan Kerugian
Keuntungan (gains) adalah pertambahan equitas atau harta bersih yang timbul dari
transaksi yang tidak biasa terjadi pada satu entitas. Keuntungan timbul dari
transaksi atau peristiwa ekonomi yang tidak berakibat pendapatan atau investasi
pemilik. Kerugian (losses) adalah penurunan ekuitas atau harta bersih yang timbul
dari transaksi yang tidak biasa terjadi dari satu entitas. Kerugian timbul dari
transaksi dan peristiwa ekonomi yang tidak berakibat pada beban atau
pendistibusian pada pemilik ekuitas.
Ada beberapa perbedaan penting antara pendapatan dan keuntungan dan antara
beban dan kerugian. Pertama, pendapatan dan beban berhubungan dangan aktivitas
utama suatu perusahaan, sementara keuntungan dan kerugian berhubungan
dengan aktivitas yang tidak biasa terjadi. Konsekwensinya, pendapatan dan be-ban
memberikan perbedaan sinyal arus kas dari yang diberikan oleh keuntungan dan
kerugian. Untuk mengilustrasikannya, disebabkan pendapatan terus berlang-sung
sehubungan dengan aktivitas operasi perusahaan, para pengguna daftar keuangan
akan mengakses dan meramal arus kas yang berhubungan dengan pen-dapatan dan
membuat peramalan pedapatan di masa datang secara berbeda de-ngan arus kas
sehubungan dengan keuntungan.
Kedua, pendapatan dan beban menghasilkan arus masuk dan keluar kotor (gross),
sementara keuntungan dan kerugian menghasilakan arus masuk dan keluar bersih
(net). Contoh, pendapatan dari penjualan adalah satu item pendapatan utama dari
satu perusahaan dagang dan menghasilkan arus masuk kotor sumber-sumber yang
berakibat dari aktivitas penjualan. Sebaliknya, satu keuntungan atas penju-alan
©2003 Digitized by USU digital library 17
bangunan, peralatan milik perusahaan berbeda antar nilai buku aktiva tetap dengan
kas atau sumber-sumber yang dari penjualan itu.
Laba Bersih dan Rugi Bersih
Menurut GAAP, Laba bersih atau rugi bersih menjelaskan adanya perubahan ekuitas
atau perubahan dalam harta bersih dari satu entitas selama satu periode sebagai
satu akibat dari transaksi dan peristiwa ekonomi yang mendatangkan pendapatan,
beban, keuntungan dan kerugian. Laba bersih dan rugi bersih meli-puti seluruh
perubahan dalam ukuitas selama satu periode, kecuali investasi oleh pemilik dan
pendistribusian hasil kepada pemilik, dan perubahan lainya didalam harta bersih
(seperti perubahan nilai pasar saham-saham ekuitas yang tidak untuk dijual pada
masa berjalan). Secara metematis laba bersih atau rugi bersih ditentu-kan oleh
pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian sebagai berikut:
Laba atau rugi bersih = Pendapatan – Beban + Keuntungan – Kerugian
Dalam tulisan ini, sebagaimana dalam praktiknya, istilah perolehan laba (earn-ing),
kadang-kadang digunakan sebagai sinonim laba bersih atau sebagai satu cara untuk
merangkum elemen-elemen (pendapatan, beban, keuntungan dan kerugian) yang
mendatangkan laba.
Adalah penting untuk diketahui, bahwa penggunaan istilah perolehan laba (earning)
sebagai sinonim dari laba (income) berbeda dengan konsep yang dikemukakan oleh
FASB dalam Statement of Financial Accounting Concepts No. 5, FASB menyarankan
bahwa perolehan laba merupakan satu ukuran kinerja untuk satu periode dan, untuk
layaknya, tidak termasuk item-item yang bersifat diluar periode itu, yaitu item-item
yang seharusnya berada pada periode lain. Secara khusus FASB mengusulkan bahwa
perolehan laba harus tidak termasuk dua kelas berikut ini:
1. “Pengaruh penyesuaian akuntansi tertentu dari periode
terdahulu yang dinyatakan dalam periode berjalan, seperti
cotoh ysng prinsipil dari praktik sekarang ini – pengaruh
kumulatif dari perubahan prinsip akuntansi – yang termasuk
dalam laba bersih tetapi tak termasuk dalam perolehan laba
sebagaimana yang dicantumkan dalam dalam daftar ini.9
2. Perubahan lainnya dalam harta bersih (secara prinsip
perolehan laba dan rugi) yang dinyatakan satu periode,
seperti perubahan nilai pasar investasi pada sekuritas ekuitas
yang dapat dijual (marketable equity securities)
dikelompokkan sebagai satu harta tidak lancar, beberapa
perubahan nilai pasar sekuritas mempunyai praktik akuntansi
khusus untuk scuritas yang dapat dijual, dan penyesuaian
translasi mata uang asing.”10
FASB mengusulakan istilah baru yaitu laba menyeluruh (comprehensive income)
yang akan memasukkan item-item yang tidak dapat dimasukkan kedalam konsep
9 “Recognition and measurement in Financial Statement of Business Enterprises,” Statement of Financial
Accounting Concepts No. 5 (stamford, Conn.: FASB, 1984), para 42a.
10 Ibid., para 4b.
18
perolehan keuntungan. Hubungan antara perolehan laba dengan laba menyeluruh di
jelaskan dalam Satement of Concepts No.5, yaitu sebagai berikut:
+ Pendapatan
- Beban
+ Keuntungan
- Kerugian
= Perolehana laba
+/- Penyesuaian akuntansi secara kumulatif
+/- Perubahan ekuitas lain yang bukan berasal dari pemilik.
= Laba menyeluruh
Sementara hal ini penting bagi anda untuk memeahami pandangan yang dinyata-kan
oleh FASB dalam konsep pernyataanya, anda harus ingat bahwa konsep pernyataan
tersebut tidak merujuk GAAP. Walaupun FASB telah mengadopsi pandangan
konseptual yang mengharuskan menggunakan istilah laba menyelu-ruh, dalam
tulisan ini, akan mengikuti praktik yang ada yaitu menggunakan laba bersih untuk
menjelaskan “baris bawah” dari daftar perhitungan laba rugi. Selanjutnya, dalam
tulisan ini juga kadang-kadang meng-gunakan istilah pero-lehan laba menggantikan
pengertian laba bersih, namun masih konsisten dengan praktik akuntansi yang ada.
Dalam pembahasan objektivitas pelaporan keuangan telah ditunjukkan bahwa
pelaporan keuangan harus menyajikan informasi tentang sumber-sumber eko-nomi,
klaim kepada atau hak-hak atas sumber-sumber, dan perubahan dalam sumbersumber
dan kewajiban-kewajiban dari laba dan aktivitas lainnya yang membantu
mencari tahu arus keadaan kas suatu perusahaan. Sumber-sumber ekonomi, klaim
kepada dan hak-hak atas sumber-sumber, dan perubahan dalam sumber-sumber
dan kewajiban-kewajiban dinyatakan oleh elemen-elemen daftar keuangan yang
didefinisikan pada seksi sebelumnya.
Neraca, juga disebut daftar posisi keuangan, melaporkan harta, hutang dan ekuitas
suatu perusahaan pada akhir tiap periode akuntansi. Daftar perhitungan laba rugi
melaporakan pendapatan, beban, keuntungan, kerugian dan hasil berupa laba atau
rugi bersih dan mengikhtisarkan kinerja perolehan keuntungan perusa-haan selama
satu periode akuntansi. Daftar perubahan dalam ekuitas pemilik mengikhtisarkan
transaksi yang mempengaruhi ekuitas pemilik selama satu periode. Terakhir, daftar
arus kas mengikhtisarkan arus kas masuk dan keluar dari aktivitas operasi, aktivitas
investasi dan aktivitas keuangan selama periode akuntansi yang bersangkutan.
Satu peristiwa ekonomi adalah satu kejadian yang mempunyai akibat pada en-titas.
Peristiwa ekonomi dapat berada didalam atau diluar entitas. Peristiwa di luar
perusahaan terjadi jika satu entitas dipengaruhi oleh sesuatu yang terjadi
dilingkungan entitas, seperti aktivitas entitas lainnya, suatu kenaikan biaya
pembelian bahan baku oleh entitas, atau bencana alam. Peristiwa di dalam perusahaan
terjadi didalam entitas itu sendiri, seperti penggunaan bahan baku didalam
proses produksi.
Peristiwa ekonomi di luar perusahaan dapat diklasifikasikan sebagai transaksi atau
kejadian yang bukan transaksi. Suatu transaksi adalah transfer sesuatu nilai antara
dua atau lebih entitas. Jika satu entitas menerima dan menanggung suatu nilai,
transaksi adalah satu pertukaran atau transfer timbal balik (reciprocal tran-sfer) dari
dan kepada entitas. Suatu perusahaan membeli barang dagangan de-ngan tunai
atau dengan kredit adalah suatu transaksi pertukaran. Dalam hal lain, jika transakasi
seperti halnya satu perusahaan hanya menerima satu nilai atau hanya menanggung
©2003 Digitized by USU digital library 19
sesuatu nilai transaksi ini disebut sebagai transfer sepihak (nonreciprocal transfer)
Suatu sumbangan sebidang tanah kepada satu perusahaan untuk tujuan operasi
adalah transfer sepihak. Peristiwa eksternal yang lain dari transaksi adalah
perubahan harga perubahan tingkat bunga dan bencana alam.
Peristiwa ekonomi memiliki berbagai pengaruh dalam eleman daftar keuangan
perusahaan. Pengaruh tersebut digambarkan pada Peragaan 3. Peragaan 3 mengilustrasikan,
seluruh peristiwa ekonomi yang dinyatakan dalam pengaruh mendua
bagi elemen daftar keuangan. Yaitu, jika satu transaksi atau peristiwa ekonomi
menyebakan satu kenaikan atau penurunan dalam satu elemen, elemen lainnya juga
berpangaruh kenaikan atau penurunan. Pengaruh mendua inilah yang mendasari
pembukuan ganda (double entry bookkeeping). Beberapa contoh pengaruh mendua
dari peristiwa ekonomi dalam elemen daftar keuangan ditunjukkan berikut ini:
PERISTIWA EKONOMI
Pertukaran harta dengan harta
Perolehan harta dengan munculnya
kewajiban
Perubahan harta yang disertai de-ngan
perubahan ekuitas
Perubahan harta disertai dengan perubahan
ekuitas
CONTOH
Perolehan persediaan dengan tunai.
Persediaan bertambah, kas berkurang
Perolehan tanah dengan mengeluarkan
wesel. Tanah bertambah, wesel bayar
juga bertambah
Suatu perusahaan konsultan memperoleh
pendapatan hasil dari jasa kon-sultasi
dengan tunai. Kas bertambah, ekuitas
juga bertambah.
Satu perusahaan mengeluarkan sahamnya
dengan tunai. Kas bertambah, ekuitas
juga bertambah.
Dibawah praktek akuntansi yang ada sekarang, tidak seluruh peristiwa ekonomi
didapatkan dan dilaporkan dalam daftar keuangan. Hanya peristiwa ekonomi yang
dapat di identifikasi dengan entitas akuntansi dan dikuan-tifikasi dalam mata uang
yang dicatat dan dilaporkan.
20
PERAGAAN-3 PENGARUH PERISTIWA EKONOMI PADA ELEMEN-ELEM DAFTAR
KEUANGAN
Seluruh transaksi, peristiwa ekonomi lainnya, dan kedaan
yang mempengaruhi perusahaan selama satu periode
A.
Seluruh perubahan harta dan
hutang tanpa di-sertai dengan
perubahan ekuitas.
1.
Peruba
han
harta
untuk
harta
2.
Peruba
han
hutang
untuk
hutang
3.
Perole
han
harta
dengan
pertamba
han
hutang
4.
Penyeles
aian
hutang
dengan
penyera
han
harta
B.
Seluruh perubahan dalam
harta dan hutang disertai
de-ngan perubahan
ekuitas
1. Laba
menyeluruh
2.
Seluruh
perubahan
pada
ekuitas dari
transfer
antara
perusahaan
dengan pem
ilik.
a.
Pend
apta
n
dan
beba
n
b.
Keuntu
ngan
dan
kerugi
an
c.
Inve
stasi
oleh
pemi
lik
d.
Distr
ibusi
kepa
da
pemi
lik
C.
Perubaha
n ekuitas
yang tidak
berpenga
-ruh
pada
harta
atau
hutang
©2003 Digitized by USU digital library 21
PRINSIP-PRINSIP PENGAKUAN
DAN PENGUKURAN ELEMEN-ELEMEN
Pada sessi yang lalu telah didefinisikan elemen-elemen daftar keuangan, ditunjukkan
hubungan antar elemen-elemen, diperkenalkan daftar keuangan yang
didasarkan pada elemen-elemen, dan membahas bagaimana transaksi dan peristiwa
ekonomi lainnya mempengaruhi elemen-elemen di maksud. Ingat, bahwa tidak ada
dikatakatan kapan elemen-elemen dicatat atau bagai-mana mengukurnya. Prinsipprinsip
pengakuan (recognition) dan pengukuran (measuremen) elemen-elemen
menyajikan pedoman masalah ini. Pembahasan prinsip-prinsip ini dibagi kedalam
dua bahagian: (1) bahasan prinsip dasar yang mendasari pengakuan seluruh
elemen, (2) bahasan mengenai prinsip-prinsip yang lebih khusus yang mendasari
sistem konvensi (GAAP). Tambah-an lain, dibahas prinsip-prinsip pengakuan dan
pengukuran yang dapat diper-timbangkan sebagai alternatif lain dari GAAP.
Pengakuan adalah proses pencatatan formal pengaruh keuangan dari transaksi atau
peristiwa ekonomi lainnya dan penggabungannya dalam informasi daftar keuangan
sebagai harta, hutang, pendapatan, beban atau beberapa elemen lain-nya.
Pengakuan meliputi inisial pengakuan dari satu item dan pengakuan dari perubahanperubahan
berikutnya dalam dalam mencatat jumlah dari item tersbeut. Dibawah
prinsip pengakuan fundamental satu item yang berakibat dari datu transaksi atau
peristiwa ekonomi harus diakui ketika kriteria berikut ini dipenuhi:
1. Item sesuai dengan definisi dari satu elemen yang ada dalam daftar
keuangan.
2. Item memiliki satu atribut relevansi bahwa dapat diukur kehandalannya
3. Informasi menyangkut item bersifat relevan, yaitu, mampu membuat
perbedaan sehat, dapat diuji dan netral.11
Empat kriteria tersebut bergantung pada kendala biaya dan manfaat. Manfaat yang
diharapkan dari pengakuan harus melampaui biaya penyajian dan penggunaan
informasi yang diharapkan. Tambahan lainnya adalah materialitas mempengaruhi
pengungkapan. Informasi yang perlu tidak diungkapkan jika dipandang tidak
material.
Ingat bagaimana ke-empat kriteria diatas, sepanjang kendala biaya dan manfaat,
dan materialitas, membangun dan membentuk karakteristik kualitas dan definisi
elemen-elemen yang telah dibahas terdahulu. Hubungan diantaranya juga terlihat
pada peragaan-1.
Sebelum membahas prinsip-prinsip yang lebih khusus yang terdapat dalam sistem
konvensional (GAAP), perlu melihat pada kriteria ke dua diatas. Istilah atribut
menjelaskan suatu karakteristik item. Contoh, atribut satu harta meliputi meliputi
volume, warna dan berat. Pengguna daftar keuangan tentunya tertarik pada atribut
keuangan, seperti biaya perolehan historis atau biaya kini, yang bermanfaat dalam
membuat keputusan ekonomi. Walaupun kriteria ke dua mengizinkan adanya atribut
yang relevan untuk diakui, pilihan atribut harus dapat terukur secra nyata.
11 FASB Statenment of Financial Accounting Concepts No. 5 para. 63
22
PRINSIP-PRINSIP
YANG MENDASARI SISTEM KONVENSIONAL (GAAP)
Berikut ini akan dibahas prinsip-prinsip pengungkapan yang mendasar dan kriteriakriterianya
yang didasari pada sistem konvensional beserta dengan ilustrasinya.
Akuntansi Akrual
Walaupun satu perolehan pendapatan perusahaan dan aktivitas-aktivitas yang
berubungan dengan perolehan pendapatan tersebut berjalan terus dimasa datang,
namun semuanya dilaporkan pada interval waktu khusus agar supaya menyajikan
informasi yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan yang tepat waktu. Suatu
aktivitas dapat berawal dan berakhir selama dalam periode akuntansi. Sementara
aktivitas lainnya memerlukan dua periode akuntansi atau lebih untuk
menyelesaikannya. Satu dealer otomobil, sebagai contoh, mengeluarkan uang tunai
untuk persediaan otomobilnya, menjual otomobil, dan juga menagih uang tunai dari
pembeli dalam satu periode akuntansi. Atau sebuah dealer dapat mengeluarkan uang
tunai untuk membeli persediaan otomobil dalam satu periode, menjualnya pada
periode ke-dua, dan menagihnya pada periode ke-tiga. Dalam hal lain, showroom
telah dibeli dalam satu periode tetapi baru memberi manfaat ekonomis pada
beberapa periode akuntansi mendatang. Dalam mengukur perolehan pendapatan,
yang memberi sinyal tentang arus uang tunai, bagaimana seharusnya pendapatan
dan beban dilaporkan? Haruskah dilaporkan dengan dasar arus kas masuk dan
keluar atau dengan dasar transaksi yang telah terjadi yang mempunyai konsekwensi
pada uang tunai dimasa datang?
Akuntansi Akrual lebih menitik beratkan pada transaksi-transaksi dan kejadian
ekonomi lainnya yang mempunyai konsekwensi pada uang tunai dari pada
penekanan pada transaksi yang melibatkan langsung penerimaan dan pembayaran
uang tunai. Dibawah akuntansi akrual, transaksi dan kejadian ekonomi lainnya
dicatat ketika transaksi dan kejadian ekonomi terjadi. Pendapatan dinyatakan dan
dilaporkan ketika diterima dan ketika jumlah dan waktu pendapatan dapat
diperkirakan beralasan kuat untuk dapat diterima.
Misalkan saja sebuah kontraktor memulai bisnisnya dalam periode 1 dan menyetujui
untuk membangun sebuah gedung dengan nilai kontrak sebesar Rp. 60.000,- yang
digunakan untuk sebuah bank lokal. Selama periode pertama, kontraktor
mengeluarkan biaya dengan kredit sebesar Rp. 35.000,- dalam pelaksanaannya dan
menyerahkan bangunan yang telah selesai kepada klien. Pada periode 2, kontraktor
menagih nilai jual bangunan tersebut Rp. 60.000,- dari klien. Pada periode 3,
kontraktor membayar hutangnya kepada kreditor sebesar Rp. 35.000,-
Berdasarkan data diatas, laba kontraktor untuk tiap periode dengan menggunakan
metode akuntansi akrual dan akuntansi berbasis kas adalah sebagai berikut:
©2003 Digitized by USU digital library 23
PERIODE
1 2 3 TOTAL
(Rp) (Rp) (Rp) (Rp)
AKUNTANSI BERBASIS
KAS
Penerimaan Kas 0,- 60.000,-
0,-
60.000,-
Pengeluaran kas 0,- 0,- (35.000,-)
(35.000,-)
Laba bersih 0,- 60.000,- (35.000,-) 25.000,-
AKUNTANSI AKRUAL
Pendapatan
60.000,-
0,- 0,-
60.000,-
Beban (35.000,-) 0,- 0,- (35.000,-)
Laba bersih 25.000,- 0,- 0,-
25.000,-
Perhatikan bahwa untuk kombinasi ke-tiga periode, kedua metode menghasilkan
jumla laba bersih yang sama. Perbedaan diantra keduanya terletak pada waktu
menyatakan laba bersih. Dengan menggunakan akuntansi berbasis kas, laba bersih
adalah nol pada tahun pertama, karena penjualan bangunan dan pembelian bahanbahan,
pembayaran upah, dan pengunaan harta dan pengorbanan jasa lainnya
dalam membangun gedung adalah dengan cara kredit. Laba bersih pada periode 2,
dan rugi pada periode 3.
Dengan menggunakan akuntansi akrual, oleh karena kontraktor membangun
dan menyrahkan gedung pada periode 1 dan juga konsekwensi perolehan kas bersih
dari aktivitas tersebut diketahui dengan tingkat kepastian yang tinggi pada akhir
periode 1, laba bersih sebesar Rp. 25.000,- dilaporkan. Pada periode 2 dan 3 tidak
terdapat aktivitas perolehan pendapatan, maka laba bersih maupun rugi tidak
dilaporkan.
Dalam situasi yang sedikit lain, seumpama perusahaan kontraktor adalah satu
perusahaan publik dan membangun berbagai bangunan gedung dalam basis seperti
yang dibahas, kemampuan perolehan labanya sangat akan mempengaruhi
pembayaran dividen kepada pemegang saham dan nilai pasar saham yang beredar.
Tentunya, didalam membuat keputusan untuk membeli atau menjual saham, para
pemilik atau calon investor akan memerlukan informasi sewaktu tentang arus kas
perusahaan dimasa itu dan akan datang untuk membantu mereka dalam menilai
perusahaan dan menyatakan dan meramalkan tentang arus kas mereka. Akuntansi
akrual memberikan yang demikian itu dengan melaporkan arus kas bersih
sehubungan dengan aktivitas perolehan pendapatan sesegera arus kas dapat
diestimasi dengan tingkat kepercayaan tertentu yang dapat diterima. Dalam contoh
terdahulu, pengaruh arus kas bersih diketahu dan dilaporkan dalam periode 1 dalam
basis akuntansi akrual, sementara dalam akuntansi berbasis kas pengaruh kas
dilampaui beberapa periode dan menyesatkan. Contoh pada akhir periode 1,
akuntansi berbasis kas menunjukkan bahwa kontraktor belum melakukan aktivitas
konstruksi yang dapat meberikan laba selama periode tersebut. Pada akhir perode
ke-dua , para pengguna laporan keuangan beranggapan atas dasar data pada daftar
laba-rugi, terdapat arus kas masuk pada kontraktor sebesar Rp. 60.000,-. Para
pengguna laporan tidak mengetahui hingga akhir tahun ke-tiga bahwa laba bersih
dan arus kas masuk pada proyek tersebut hanya Rp. 25.000,-
24
Dalam ikhtisar, akuntansi akrual didasari pada arus kas, tetapi melaporkan transaksi
dan kejadian lainnya atas dasar konsekwensi kas pada saat transaksi tersebut
terjadi sebagai pengganti dari saat kas diterima dan dibayarkan. Akuntasi
akrual juga lebih utama dibanding akuntansi berbasis kas dipandang dari definisi
elemen laporan keuangan, seperti yang dicontohkan dibawah ini.
Katakan pada tanggal 1 Januari 1989, PT Sibarani membentuk sebuah perusa-haan
yang memperdagangkan mobil dengan investasi tunai Rp. 20.000,- Tran-saksi
selama bulan Januari adalah sebagai berikut:
1. Dibeli 4 buah mobil, tunai, dengan harga Rp. 6.000,- per buah
2. Disewa sebuah gedung untuk kantor dan showroom dan dibayar didepan
untuk masa sewa 3 bulan Rp. 3.000,-
3. Dijual 3 buah mobil dengan harga Rp. 9.000,- per buah. Dua diantaranya
dijual tunai. Mobil ketiga dijual dengan rencana pembayaran yang
ditangguhkan, tertagih pada saat penjualan sebesar Rp. 1.000,-
4. Salesman memperoleh Rp 300,- komisai atas penjualan satu buah mobil.
Pada akhir bulan Januari komisi telah dibayarkan atas penjualan tunai dua
buah mobil. Perusahaan terhutang atas komisi salesman atas penjualan mobil
ke-tiga.
5. Gaji pegawai kantor dibayar sejumlah Rp. 800,-
Laporan keuangan berbasis kas dan akrual untuk bulan januari atas dasar transaksi
diatas terlihat pada peragaan 4. Pada peragaan tersebut beberapa hal yang
membuat akuntansi berbasis kas tidak berkesesuaian dengan teori yang melandasi
pendefisian elemen laporan keuangan.
a. Pendekatan kas menyatakan lebih kecil jumlah pendapatan dan arus
masuk harta yang berasal dari penjualan tiga buah mobil di bulan
Januari. Piutang Rp. 8.000,- merupakan arus kas masuk dimasa akan
datang telah diabaikan dalam akuntansi berbasis kas.
b. Beban sehubungan dengan harga perolehan mobil yang terjual dalam
bulan Januari dinyatakan kebesaran sebab hanya ada tiga mobil yang
terjual. Mobil ke-empat adalah harta perusahaan dalam bentuk
persediaan. Mobil ini memiliki potensi arus kas masuk di masa depan
sebab dapat dijual pada hari berikutnya.
©2003 Digitized by USU digital library 25
PERAGAAN
4
LAPORAN KEUANGAN ATAS DASAR AKUNTANSI BERBASIS
KAS DAN AKRUAL
SIBARANI MOTOR
DAFTAR LABA RUGI
Periode Bulan Januari 1989
BASIS KAS
(Rp)
AKRUAL
(Rp)
Pendapatan
19.000,-
7.000,-
Beban:
Harga perolehan mobil:
Pembelian 4 mobil @ Rp. 6.000,-
Terjual 3 mobil @ Rp. 6.000,-
Beban Komisi …………………….
Gaji ……….………………………
Beban Sewa ………………………
24.000,-
600,-
800,-
3.000,-
18.000,-
900,-
800,-
1.000,-
Total Beban (28.400,-) ( 20.700,-)
Lana (Rugi) Bersih (9.400,-) 6.300,-
SIBARANI MOTOR
NERACA
Per 31 Januari 1989
BASIS KAS
(Rp)
AKRUAL
(Rp)
Harta
Kas
10.600,-
10.600,-
Piutang Dagang (Rp 9.000,- - Rp.
1.000,-)
8.000,-
Persediaan 6.000,-
Sewa bayar di muka 2.000.-
Total Harta 10.600,- 26.600,-
Hutang dan Modal
Hutang Komisi 300,-
Modal, RT. Sibarani 10.600,- 26.300,-
Total Hutang dan Modal 10.600,- 26.600,-
c. Pendekatan kas mengabaikan bahagian komisi yang seharusnya telah
diterima oleh salesman. Oleh karena tiga mobil telah dijual, tentunya
salesman sudah harus menerima pendapatan komisi sebesar Rp. 900,-
Demikian juga perusahaan diwajibkan untuk membayar kekurangan
Rp. 300,- kepada salesman yang merupa-kan hutang perusahaan.
d. Beban sewa di bulan Januari dinyatakan kebesaran dengan pendekatan
kas sebab pembayaran Rp. 3000,- adalah untuk masa sewa 3
bulan. Masih ada hak sewa tersisa dua bulan lagi yang harus dinyatakan
sebagai beban sewa yang dibayar dimuka yang merupakan
harta perusahaan.
26
Dalam akuntansi akrual, arus kas yang terjadi lebih dulu sehubungan dengan
aktivitas perolehan pendapatan disebut dengan panjar pembayaran (untuk arus
kas keluar) atau panjar penerimaan (untuk arus kas masuk). Seperti contoh, Sewa
dibayar di muka Rp. 20.000,- terlihat dalam neraca pada peragaan 4 adalah panjar
pembayaran. Aktivitas-aktivitas perolehan pendapatan yang terjadi di depan
sehubungan dengan arus kas disebut akrual. Piutang dagang Rp 8.000,- terlihat
pada peragaan 4 adalah suatu contoh pendapatan akrual, dan hutang komisi Rp.
3.000,- adalah contoh biaya akrual.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar